[Pemikiran Politik Islam] Politik Adalah Pemahaman tentang Berbagai Kemungkinan (Bagian 2/2)
Rasulullah saw. pun memandang politik sebagai seni memahami realitas yang mungkin terjadi, bukan yang mustahil terjadi. Oleh sebab itu, beliau mengganti kemusyrikan dengan Islam, serta menjadikan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam sebagai solusi permasalahan umat. Beliau saw. juga mengganti pemikiran-pemikiran yang syirik dan kufur.
Imperialisme, khususnya imperialisme Barat, sepenuhnya menyadari kekuatan Islam dan ancaman yang akan muncul jika Islam kembali ke kancah kehidupan. Oleh sebab itu, mereka memberikan pemahaman yang pragmatis tentang politik, lalu menyebarluaskannya kepada kaum muslim. Mereka juga menggunakannya sebagai dasar bagi aktivitas politik mereka.
Bagi mereka, politik merupakan seni memahami realitas yang mungkin terjadi, yaitu beraktivitas sesuai realitas yang ada saat ini. Mereka menyebut apa pun yang bukan bagian dari realitas saat ini sebagai utopia dan angan-angan belaka. Ini semata-mata untuk menjauhkan kaum muslim dari Islam dan pemikiran Islam.
Pemahaman pragmatis yang tunduk pada realitas ini juga menyebabkan umat tidak berpikir untuk mengubah realitas. Oleh karena itu, pemahaman politik ini harus ditolak. Harus dipahami pula bahwa politik mempunyai makna mengurus dan memelihara kepentingan umat sesuai dengan hukum dan aturan Islam, bukan berdasarkan realitas atau kebutuhannya. [MNews/RY-YG]
Sumber: Syekh Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, Upaya Membumikan Politik Sebagai Mainstream Gerakan.

Komentar
Posting Komentar